Proses pembelajaran di SMP Negeri 1 Probolinggo pada Sabtu, 8 Agustus 2026, berlangsung dalam suasana yang berbeda dari biasanya. Melalui kegiatan kokurikuler dengan tema “Cita-Citaku”, sekolah menghadirkan sebuah pengalaman belajar yang inspiratif melalui program Gerakan Orang Tua Mengajar. Sebanyak 21 orang narasumber yang merupakan perwakilan orang tua/wali murid dari masing-masing kelas hadir untuk berbagi pengalaman dan memberikan motivasi kepada peserta didik. Para narasumber memiliki latar belakang profesi yang beragam sehingga peserta didik memperoleh kesempatan untuk mengenal berbagai pilihan profesi secara lebih dekat. Mereka hadir di kelas masing-masing untuk menceritakan pengalaman, perjalanan karier, tantangan, serta nilai-nilai yang harus dimiliki untuk mencapai keberhasilan dalam profesinya. Kehadiran orang tua sebagai narasumber memberikan warna baru dalam proses pembelajaran dan membuat suasana kelas menjadi lebih hidup, komunikatif, serta kontekstual.
Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh keresahan bahwa masih terdapat peserta didik yang belum memiliki gambaran yang jelas mengenai cita-cita dan masa depan yang ingin mereka raih. Cita-cita bukan sekadar keinginan untuk menjadi seseorang, tetapi merupakan arah yang dapat mendorong seseorang untuk berusaha, belajar, dan mempersiapkan diri. Ketika seorang anak memiliki cita-cita, ia akan lebih mudah memahami mengapa dirinya perlu belajar dan mengembangkan berbagai kemampuan. Sebaliknya, tanpa tujuan yang jelas, proses belajar terkadang hanya dipandang sebagai kewajiban tanpa memahami manfaatnya bagi masa depan. Oleh karena itu, sekolah berupaya menghadirkan pengalaman nyata melalui para orang tua yang berasal dari berbagai profesi agar peserta didik dapat melihat secara langsung hubungan antara cita-cita, proses belajar, kerja keras, karakter, dan keberhasilan.

Melalui Gerakan Orang Tua Mengajar, peserta didik tidak hanya diperkenalkan pada berbagai jenis profesi, tetapi juga diajak melihat sisi lain dari sebuah pekerjaan yang selama ini mungkin hanya mereka lihat dari hasil akhirnya. Seorang polisi, tentara, dokter, guru, pengusaha, youtuber, konten kreator, maupun profesi lainnya tentu memiliki proses panjang untuk mencapai keberhasilan. Di balik pekerjaan yang terlihat menarik dan menyenangkan, terdapat pendidikan, latihan, kedisiplinan, kerja keras, kegagalan, pengorbanan, tanggung jawab, dan ketekunan yang harus dilalui. Cerita dan pengalaman yang disampaikan langsung oleh perwakilan orang tua dari masing-masing kelas sebagai praktisi berbagai profesi memberikan gambaran yang lebih nyata kepada peserta didik bahwa cita-cita harus diikuti dengan usaha dan proses. Dengan demikian, peserta didik diharapkan tidak hanya bermimpi tentang profesi yang mereka inginkan, tetapi mulai menyusun langkah nyata untuk mempersiapkan diri sejak sekarang. Antusiasme peserta didik selama kegiatan menunjukkan bahwa pembelajaran yang menghadirkan pengalaman nyata dan melibatkan orang tua mampu memberikan kesan yang mendalam. Melalui kegiatan ini, sekolah berharap tumbuh kesadaran bahwa setiap peserta didik memiliki potensi, kesempatan, dan masa depan yang dapat dikembangkan melalui usaha yang sungguh-sungguh. Gerakan Orang Tua Mengajar sekaligus menjadi bentuk nyata kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan peserta didik dalam mendampingi anak mengenali potensi serta merancang masa depannya. Kehadiran 21 perwakilan orang tua dari masing-masing kelas menjadi bukti bahwa pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah, tetapi merupakan proses bersama yang membutuhkan keterlibatan keluarga. “Cita-Citaku” bukan sekadar tentang ingin menjadi apa, tetapi tentang siapa diri kita hari ini, apa yang harus kita perjuangkan, dan langkah apa yang harus kita lakukan untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Melalui kegiatan ini, SMP Negeri 1 Probolinggo terus berupaya menumbuhkan peserta didik yang berani bermimpi, tekun belajar, memiliki karakter kuat, dan siap menjemput masa depan dengan penuh percaya diri.






